“Naked Safety Demonstration from Air New Zealand”, antara Kreativitas dan Norma

Ini adalah tulisan yang pernah saya buat di note facebook dan blog saya terdahulu sekitar pertengahan tahun 2009 (saat ini telah dimodifikasi dan dilakukan penyesuaian judul). Barangkali kalau pembaca sekalian belum jadi teman saya di facebook dan belum sempat membaca ini, silahkan bisa dibaca sekarang.

Tulisan ini hanyalah sebuah opini pribadi yang saya hasilkan atas hal-hal yang menarik dari beberapa berita atau informasi yang saya peroleh mengenai peragaan prosedur keselamatan penerbangan yang ada di maskapai Air New Zealand baru-baru ini.

Sebagai informasi awal, silahkan menuju sumber elektronik berikut ini:

“Pramugari Telanjang di Air New Zealand”

“Bare essentials of safety from Air New Zealand” (video duration 3:28)

Setelah membaca berita ataupun melihat video tersebut, ada hal-hal yang perlu saya apresiasi atas upaya dari Air New Zealand ini yang kemungkinan adalah yang pertama kali dilakukan secara ‘kreatif’ untuk menarik perhatian penumpang dalam peragaan prosedur keselamatan penerbangan. Dari berita tersebut terdapat keterangan bahwa dengan adanya tayangan video unik itu membuat para penumpang tak hanya penasaran, namun secara efektif membuat mereka juga menyimak dan akhirnya memahami prosedur keselamatan penerbangan tersebut. Itulah maksud dari pembuatan dan penanyangan video unik tersebut, yaitu sebagai sarana kampanye keselamatan penerbangan di dalam pesawat udara.

Seperti yang telah disebutkan dalam berita tersebut, banyak penumpang merasakan bahwa peragaan secara manual atau melalui video peragaan prosedur keselamatan penerbangan sebelum pesawat lepas landas memang membosankan. Meski telah menjadi standar penerbangan di seluruh dunia, namun hampir tidak ada penumpang yang peduli.

Hal inipun juga saya ketahui ketika pada beberapa kesempatan melakukan perjalanan dengan pesawat udara dalam penerbangan domestik, bahkan pernah juga saya tidak melihat ke arah flight attendant/cabin crew (baca: pramugari) ketika melakukan safety demonstration, dan pernah juga saya mengarahkan pandangan ke beberapa penumpang di sekitar saya untuk melihat apa yang mereka lakukan saat peragaan ini berlangsung.

Dan hasilnya memang bermacam-macam, ada yang tertarik membuka halaman per halaman inflight shop magazine ataupun tourist information magazine, ada yang masih asyik mengutak-atik handphone-nya (mungkin kirim sms salam perpisahan ke pacarnya, mohon doa selamat ke keluarganya, ucapan terima kasih ke koleganya atau siapa tahu hanya sekedar meng-update status facebook mereka seperti: @ pesawat atau ‘ready for take-off’). Lalu ada juga yang melihat jendela ke arah luar pesawat, namun juga ada yang menyimak peragaan itu dengan seksama, baik yang melihat pramugari secara langsung ataupun yang sambil melihat leaflet peragaan dan mencocokkannya dengan gerakan pramugari tersebut. Barangkali saya pun juga pernah seperti itu.

Saya memberikan pemakluman bagi penumpang (termasuk bisa buat saya sendiri) yang tidak menyimak peragaan itu dengan seksama. Bisa jadi ada kebosanan atau kekurang-menarikan lagi dalam benak penumpang tersebut karena dalam setiap kesempatan mereka bepergian dengan pesawat udara, peragaan prosedur keselamatan penerbangan tersebut pasti sama saja dan tidak ada bedanya, bahkan bisa dikatakan di setiap maskapai penerbangan (airline), gerakan demi gerakan peragaaan tersebut memang sudah standar berurutan seperti itu, mulai dari peragaan mengunci, mengencangkan dan melepas seatbelt, peragaan memasang, mengembangkan dan meniup pelampung, lalu dilanjutkan peragaan memasang masker oksigen saat udara dalam pesawat menipis, pemberitahuan membuka penutup jendela, menutup meja dan menegakkan sandaran tempat duduk saat take-off maupun landing, pemberitahuan pintu darurat dan lavatory/kamar kecil, serta lain-lain yang menjadi bagian dalam prosedur keselamatan penerbangan. Bisa jadi bagi sejumlah penumpang, prosedur itu sudah hafal di luar kepala sehingga mereka menganggap tidak perlu lagi untuk melihat peragaan tersebut dengan seksama.

Sebagai kewajiban dari airline, mau-tidak mau, berguna-tidak berguna, peragaan prosedur keselamatan penerbangan mutlak harus dilakukan dalam setiap operasional penerbangan yang dilakukan oleh airline tersebut. Bahkan ketentuan peragaan prosedur tersebut telah diatur dalam Peraturan Penerbangan Internasional dan Nasional, bahwa peragaan tersebut harus dilakukan baik secara peragaan manual oleh pramugari maupun penayangan peragaan melalui video display, dengan tujuan agar para penumpang mengerti akan prosedur tersebut dan bisa melakukannya juga. Sedangkan isi/substansi prosedur keselamatan penerbangan adalah hal yang bersifat baku dan tidak dapat diubah-ubah atau dimodifikasi dalam bentuk apapun.

Disinilah letak permasalahannya, apabila prosedur tersebut sudah baku dan tidak bisa dimodifikasi lagi, lalu bagaimana cara membuat semua penumpang bisa menyimak dengan seksama dan serius sehingga tidak ada lagi yang merasakan kebosanan ketika melihat peragaan tersebut?

Salah satu jawaban mengatakan apa yang dilakukan oleh cabin crew Air New Zealand adalah sebuah ‘terobosan’ atau cara yang kreatif sekaligus efektif. Dengan menampilkan video ‘pramugari telanjang’ pada peragaan prosedur keselamatan penerbangan akhirnya bisa mengalihkan perhatian penumpang untuk menyimak prosedur tersebut. Cara tersebut sejauh ini belum mendapat respon negatif atau pertentangan dari berbagai pihak, mengingat dari pihak Air New Zealand sendiri menyatakan video tersebut bukan sesuatu hal yang porno karena aktor/aktris pelaku-nya memang tidak telanjang bulat namun tubuh mereka dilukis menyerupai pakaian pramugari untuk menyamarkan ke-bugil-an mereka.

Inilah yang saya katakan unik dan kreatif. Perubahan yang dilakukan oleh Air New Zealand hanyalah pada cara penyampaian bentuk informasi kepada penumpang tanpa mengubah substansi prosedur keselamatan penerbangan.

Lalu pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana dengan penerbangan di Indonesia, apakah bisa juga dilakukan hal serupa? Saat ini saya bisa menjawab dengan jawaban yang sangat pasti bahwa pembuatan hingga penayangan semacam video ‘pramugari telanjang’ untuk menarik perhatian penumpang sangat tidak mungkin bisa dilakukan. Indonesia punya Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi. Definisi mengenai pornografi juga sudah sangat jelas diatur di pasal 1, yaitu “gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan di masyarakat.

Untuk hal-hal yang menyerempet atau mendekati definisi itu saja sudah bisa dianggap menjurus ke arah pornografi, apalagi ini sudah jelas membuat hingga menayangkan gambar atau gambar bergerak orang telanjang walaupun melalui penyamaran dengan tubuh dilukis menyerupai pakaian pramugari, tentunya sudah sangat bertentangan dengan Undang-Undang tersebut.

Kembali pada prosedur keselamatan penerbangan, penyampaian dan pemahaman prosedur tersebut sangat penting dilakukan mengingat airline berkewajiban menyampaikan prosedur tersebut kepada penumpang dan sebagai penumpang, mereka juga punya hak untuk dapat memahami prosedur tersebut secara mudah dan jelas. Pemahaman tersebut juga sangat penting bagi penumpang sehingga tidak akan muncul komplain hingga tuntutan hukum dari penumpang akibat kurang atau tidak pahamnya mereka akan prosedur keselamatan penerbangan apabila terjadi kejadian fatal yang tidak diinginkan (yaitu aircraft incident hingga aircraft accident).

Sebagai penutup, pada bagian akhir tulisan ini saya mencoba untuk menyampaikan pertanyaan kepada pembaca, cara apa yang masih bisa dilakukan oleh airline Indonesia untuk menarik perhatian semua penumpang sehingga perhatiannya akan tertuju dengan seksama saat peragaaan maupun penayangan prosedur keselamatan penerbangan tersebut tanpa kecuali, sehingga maksud dari penyampaian prosedur tersebut bisa sampai ke penumpang secara jelas.

Mungkinkah cara itu dengan memodifikasi pakaian pramugari agar terkesan lebih seksi tapi tetap sopan untuk dipandang sehingga lebih menarik untuk dinikmati ketika memeragakan prosedur tersebut? Atau mungkinkah dengan penambahan efek-efek suara rayuan dari pimpinan pramugari yang memandu gerakan tersebut melalui audio?

Apapun caranya, sekali lagi perlu diingat sudah ada Undang-Undang Pornografi yang menjadi batasan pe-modifikasi-an cara yang masih bisa dilakukan ini. Namun demikian walaupun sudah dibatasi, sebagai orang Indonesia yang terkenal pintar-pintar mungkin saja masih bisa dicari celah agar diperoleh cara yang efektif dan tidak bertentangan dengan Undang-Undang tersebut.

Referensi

– Kamus Hukum dan Regulasi Penerbangan

– Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi

Sumber foto

http://dunia.vivanews.com/news/read/72550-prosedur_keselamatan_ala_pramugari_telanjang

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s