So Many Aircraft Coming In, Parking Stand?

Judul di atas adalah tulisan pada status BBM salah seorang pimpinan di kantor saya. Pada akhir bulan Juni yang lalu, ada update-an status BBM beliau pada saat mengikuti rapat pengadaan pesawat Garuda Indonesia. Status BBM beliau bertuliskan “so many aircraft coming in…parking stand?”, yang maksud dari status tersebut kurang lebih adalah “begitu banyak pesawat dibeli dan masuk ke Indonesia, masih adakah tempat parkir pesawat di bandara Indonesia?”

Kalimat pertanyaan di atas menarik perhatian saya untuk membuat tulisan mengenai pertumbuhan bisnis maskapai penerbangan nasional dan ketersediaan kapasitas di bandar udara. Berikut adalah tulisan tersebut.

Perkembangan Bisnis Penerbangan di Indonesia

Bisnis penerbangan di Indonesia dinilai sangat menjanjikan dari tahun ke tahun. International Air Transport Association (IATA) dalam sebuah laporannya memperkirakan bahwa selama periode 2010 – 2014, laju pertumbuhan penerbangan dalam negeri di Indonesia bisa mencapai 10% per tahun. Dengan didukung oleh pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) yang diharapkan sebesar 6,5% sampai dengan tahun 2014, di negara yang juga merupakan kepulauan yang besar dengan 33 provinsi dan hampir 240 juta orang, IATA memprediksi Indonesia akan menjadi pasar terbesar kesembilan di dunia untuk penerbangan domestik. Kondisi geografis Indonesia cocok untuk pasar yang membutuhkan penerbangan domestik dan internasional sebagai sarana konektivitas dan mobilitas yang tinggi.

Hal senada juga diungkapkan oleh Asosiasi Perusahaan Penerbangan Indonesia (Indonesia National Air Carriers Association/INACA) yang memperkirakan industri penerbangan nasional masih tetap bisa tumbuh kendati industri penerbangan global terpuruk sebagai dampak krisis ekonomi di negara-negara maju dan tingginya harga minyak dunia. Pertumbuhan akan terlihat pada jumlah penumpang angkutan udara rute domestik dan internasional di Indonesia yang pada tahun 2012 ini diperkirakan naik sekitar 15% – 20% dari realisasi tahun 2011 sebanyak 66,04 juta orang (58,8 juta penumpang domestik + 7,24 juta penumpang internasional). INACA memperkirakan pertumbuhan jumlah penumpang sebesar 15% – 20% mengacu pada faktor pendukung seperti pertumbuhan ekonomi nasional yang diperkirakan masih baik, serta kestabilan harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah terhadap dollar.

Perkembangan bisnis penerbangan di Indonesia juga ditandai dengan semakin banyak rute penerbangan domestik dan internasional di Indonesia. Kementerian Perhubungan mencatat bahwa pada tahun 2011 sebanyak 222 rute domestik dan 123 rute internasional (rute penerbangan dari/ke Indonesia) dioperasikan oleh maspakai penerbangan nasional dan asing. Jumlah rute tersebut di tahun 2012 ini sesuai prediksi masing-masing akan meningkat 15% untuk rute domestik dan 5% untuk rute internasional.

Pertumbuhan dan perkembangan bisnis penerbangan di Indonesia yang cukup tinggi setiap tahunnya tentunya tak lepas dari dukungan regulasi dan aturan yang mengatur penerbangan di Indonesia itu sendiri. Regulasi Pemerintah di bidang angkutan udara membawa dampak positif bagi industri penerbangan. Sisi positif ditandai dengan peningkatan sisi pelayanannya karena adanya persaingan yang ketat, operasi yang lebih efisien dan efektif, serta harga tiket yang relatif murah sehingga bisa dinikmati konsumennya dan tidak hanya terbatas konsumen lama tetapi juga konsumen baru.

 

Regulasi Pemerintah Tentang Kepemilikan Pesawat

Dalam menjaga persaingan bisnis penerbangan yang sudah ketat saat ini, Pemerintah juga telah mengaturnya dengan menyediakan payung hukum untuk melindungi seluruh maskapai penerbangan nasional agar tercipta persaingan bisnis yang kompetitif dan maju satu sama lain. Persaingan bisnis penerbangan nasional tidak lepas dari saling bertumbuhnya bisnis dari masing-masing maskapai penerbangan. Sebagai contoh adalah dalam kepemilikan pesawat melalui pengadaan atau pembelian pesawat oleh maskapai penerbangan nasional. Hampir semua maskapai berlomba-lomba dan beramai-ramai membeli pesawat untuk memperkuat armadanya guna menjaring pertumbuhan penumpang penerbangan di Indonesia yang semakin meningkat.

Persaingan muncul tatkala maskapai penerbangan, satu sama lain saling melakukan studi banding (benchmark) ke pabrik pesawat hingga mencari investor yang dapat menghadirkan pesawat baru bagi maskapai penerbangannya. Ramainya pembelian dan pengadaan pesawat-pesawat baru itulah yang membuat Pemerintah perlu menyediakan regulasi dan aturan yang mengatur kepemilikan pesawat agar perputaran modal pengadaan pesawat tersebut tidak sampai mengganggu bisnis penerbangan secara keseluruhan.

Perkembangan bisnis maskapai penerbangan nasional diikuti dengan besarnya jumlah pesawat yang beroperasi di Indonesia. Tahun 2011 tercatat sebanyak 887 unit pesawat dioperasikan oleh maspakai penerbangan nasional. Dengan proyeksi pertumbuhan sebesar 7% per tahun, jumlah pesawat diprediksi akan semakin bertambah setiap tahun Hal ini juga telah didukung dari sisi regulasinya, yaitu dengan adanya ketentuan dalam pasal 118 Undang-Undang Penerbangan (UU nomor 1 tahun 2009) yang mengatur jumlah kepemilikan pesawat bagi badan usaha angkutan udara berjadwal nasional dan badan usaha angkutan udara tidak berjadwal dan non niaga nasional sebagai persyaratan untuk dapat melaksanakan kegiatan angkutan udara.

Maskapai penerbangan berjadwal nasional disyaratkan harus memiliki sekurang-kurangnya 5 unit pesawat dan menguasai/menyewa sekurang-kurangnya 5 unit pesawat, sedangkan bagi maspakai penerbangan tidak berjadwal (termasuk maskapai penerbangan khusus kargo) dan maskapai penerbangan non niaga dipersyaratkan harus memiliki sekurang-kurangnya 2 unit pesawat dan menguasai/menyewa sekurang-kurangnya 1 unit pesawat.

Maskapai Penerbangan Nasional Borong Pesawat

Dengan adanya ketentuan mengenai kepemilikan pesawat udara bagi maskapai penerbangan Indonesia dan dengan acuan proyeksi pertumbuhan jumlah pesawat sebesar 7% per tahun maka diperkirakan jumlah pesawat yang dioperasikan oleh maskapai penerbangan Indonesia sampai dengan tahun 2015 akan mencapai hingga 1.148 unit.

Indonesia merupakan pasar bagi penjualan pesawat-pesawat di dunia. Beberapa pameran kedirgantaraan yang diadakan setiap 2 tahunan seperti pada Singapore Air Show (di bulan Februari), Farnborough Air Show (di bulan Juli) dan Australian Internasional Air Show (di bulan Maret) memamerkan beberapa pesawat keluaran terbaru yang menjadi kiblat bagi maskapai penerbangan Indonesia dalam hal pembelian pesawat untuk menambah jumlah armadanya ataupun dalam rangka peremajaan pesawat-pesawat tua.

Pada penyelenggaraan Singapore Air Show di bulan Februari 2012 yang lalu misalnya, tercatat beberapa transaksi pembelian pesawat didominasi oleh maskapai penerbangan Indonesia untuk pesawat komersial dan oleh Mabes TNI untuk transaksi alutsista (alat utama sistem pertahanan) khususnya pada pembelian pesawat terbang militer dan helikopter.

Bisnis jasa transportasi udara memang masih diwarnai persaingan keras dan kesulitan finansial, namun pasar di negeri ini terlampau menggiurkan untuk dibiarkan. Untuk itu Garuda Indonesia dan Lion Air serta maskapai penerbangan nasional yang lain berlomba-lomba menyediakan pesawat-pesawat baru. Di ajang Singapore Air Show 2012 yang lalu, Garuda Indonesia sepakat membeli hingga 18 pesawat Bombardier CRJ-1000 Next Generation.

Lion Air pada kesempatan yang sama juga telah berhasil merampungkan transaksi pembelian pesawat baru yaitu sebanyak 201 pesawat Boeing 737 MAX dan 29 Boeing 737-900ERs. Nilai transaksi pembelian 230 pesawat tersebut mencapai harga yang sangat fantastis yakni sekitar US$ 22,4 Milyar. Di samping itu, Lion Air juga membeli pesawat lain untuk anak perusahaannya. Sebanyak 27 unit pesawat ATR 72-600 dibeli untuk maskapai penerbangan Wings Air dan 4 unit pesawat Hawker 900XP untuk Batik Air yang merupakan anak perusahaan baru di kelas penerbangan full services.

Maskapai penerbangan lain pun tak mau ketinggalan melakukan transaksi pembelian pesawat pada ajang Singapore Air Show 2012 yang lalu. Tercatat Merpati Nusantara, Citilink, Susi Air dan Aviastar Mandiri membeli beberapa varian pesawat baru untuk menambah armadanya. Merpati Nusantara akan mendatangkan 40 unit ARJ 21-700, Citilink membeli 4 unit Airbus A320, Susi Air membeli pesawat tipe Cessna 2088 Grand Caravan, pesawat tipe Citation Sovereign, pesawat tipe Pilatus dan pesawat tipe Avanti-II. Sedangkan Aviastar Mandiri membeli 3 unit pesawat tipe RJ 85 dan 2 unit RJ 100.

Beberapa informasi mengenai transaksi pembelian pesawat di ajang Singapore Air Show 2012 tersebut membuktikan bahwa peningkatan jumlah pesawat udara di Indonesia sekitar 7% per tahunnya memang benar adanya. Untuk tahun 2012 saat ini saja diperkirakan antara 50 – 60 pesawat udara akan dikirim masuk ke Indonesia dan akan beroperasi di langit biru Indonesia. Dengan begitu banyak pesawat dibeli oleh maskapai penerbangan nasional dan masuk ke Indonesia, maka kesiapan infrastruktur bandara di Indonesia menjadi kunci utama bagi hal tersebut.

 

Kesiapan Infrastruktur Bandara di Indonesia

Banyaknya jumlah pesawat yang beroperasi di Indonesia menuntut semakin disiapkannya infrastruktur di bandara. Pesawat-pesawat yang dioperasikan tersebut butuh tempat parkir untuk menaikkan dan menurunkan penumpang/kargo di bandara serta tempat pengisian bahan bakar avtur. Tempat parkir pesawat tersebut adalah apron (pelataran pesawat).

Apron berada pada sisi bandar udara (airport side) yang langsung bersinggungan dengan bangunan terminal, dan juga dihubungkan dengan jalan rayap (taxiway) yang menuju ke landas pacu (runway). Keberadaan apron tentunya untuk mendukung arus penerbangan agar lancar dan cepat serta tidak ada delay pesawat di bandara. Semakin luas apron di suatu bandara, maka akan semakin banyak pesawat yang dapat parkir dan lalu lintas penerbangan akan semakin lebih baik.

Apron di bandara terdiri dari beberapa parking stand yang memiliki ukuran jarak masing-masing tergantung lebar bentang sayap (wingspan) dari jenis atau tipe pesawat yang akan beroperasi dan parkir di bandara tersebut. Untuk pesawat tipe wide body, medium body dan narrow body (contohnya tipe Boeing series, Airbus A320/A319, Fokker dan ATR), jaraknya kurang lebih diperlukan 7,5 meter. Sedangkan untuk pesawat yang small body (contohnya tipe Cessna dan Casa) diperlukan jarak kurang lebih 3 meter.

Kapasitas apron dengan menyebutkan berapa jumlah parking stand yang tersedia di suatu bandara dapat dilihat pada data notice of airport capacity (NAC). Sebagai contoh data parking stand eksisting yang terdapat pada NAC dan rencana pengembangan apron di beberapa bandara besar di Indonesia.

 

Dari tabel (gambar) di atas memperlihatkan bahwa kapasitas apron (parking stand) bandara besar di Indonesia yang menjadi hub operasional bagi maskapai penerbangan Indonesia memang masih belum dapat memenuhi kebutuhan tempat parkir bagi pesawat-pesawat yang dimiliki dan dioperasikan oleh maskapai penerbangan tersebut. Apalagi beberapa pesawat tersebut tidak selamanya akan beroperasi mengikuti rotasi utilisasi pesawat setiap harinya. Ada kalanya pesawat-pesawat tersebut ‘beristirahat’ di bandara hingga ‘bermalam’ di bandara (remain over night/RON), yang tentunya pesawat-pesawat tersebut akan menggunakan parking stand yang ketersediaannya di bandara masih sangat terbatas.

Barangkali solusi yang dapat ditawarkan untuk mengatasi permasalahan ketersediaan parking stand  di apron bandara, diantaranya:

  1. Perluasan dan pengembangan apron di bandara yang telah dibangun yang menjadi hub operasional dan bandara yang berpotensi menjadi hub operasional maskapai penerbangan ke depannya, sehingga akan menambah jumlah parking stand. Pengintegrasian rencana pengembangan bandara (khususnya apron) dan rencana kebutuhan armada pesawat maskapai penerbangan harus dilakukan sehingga muncul sinkronisasi dari ketersediaan jumlah parking stand di bandara.
  2. Pembangunan bandara-bandara baru dengan lokasi yang tidak terlalu dekat dengan bandara yang telah dibangun sebelumnya. Tentunya hal ini akan membutuhkan biaya yang sangat besar. Bandara yang dibangun oleh Pemerintah membutuhkan dana APBN atau APBD. Sedangkan saat ini pembangunan bandara oleh pihak swasta sedang ramai diperbincangkan dan mengarah pada persetujuan bahwa pihak swasta diperkenankan membangun bandara dengan skema Public – Private Partnership (PPP).
  3. Pembukaan bandara-bandara baru sebagai bandara hub operasional maskapai penerbangan. Beberapa bandara di wilayah Sumatera (Palembang, Pekanbaru, Padang dan sekitarnya), wilayah Kalimantan (Tarakan, Banjarmasin, Pontianak), wilayah Sulawesi dan Maluku (Manado, Palu, Gorontalo, Ambon) berpotensi sebagai hub baru bagi maskapai penerbangan, sehingga base operation dan parkir pesawat akan ditempatkan di bandara-bandara tersebut.
  4. Pembukaan rute penerbangan yang baru, khususnya untuk rute penerbangan domestik dari wilayah Barat menuju wilayah Tengah dan Timur, dan rute tersebut dioperasikan pada tengah malam. Saat ini berkembang konsep baru operasional penerbangan dengan memanfaatkan terbang di malam hari (tengah malam) sebagai ‘hotel terbang’. Dengan konsep baru tersebut maka penumpang yang akan bepergian dari wilayah Barat menuju Tengah atau Timur dan sebaliknya tidak memerlukan hotel untuk bermalam dan dari sisi pesawat juga tidak memerlukan tempat parkir  di malam hari (RON) karena akan beroperasi secara penuh mengikuti jadwal rotasi pesawatnya.

Sekian. Semoga tulisan di atas bermanfaat bagi Anda sekalian.

Referensi:

– Undang-Undang nomor 1 tahun 2009 tentang Penerbangan

– Berbagai sumber elektronik mengenai pemberitaan tentang Singapore Air Show 2012

– Paparan 7 bandara pilot project Indonesia Slot Coordinator (IDSC)

Sumber foto:

– sosbud.kompasiana.com – kepadatan penumpang penerbangan di Indonesia

– airbus.com – Singapore Air Show 2012

– juanda-airport.com – apron dan parking stand di bandara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s