Reduce Emissions, Go Green Aviation

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah berita di media online yang berjudul “Jet Berbahan Bakar Nabati Pertama Tinggal Landas di Kanada“. Dalam berita tersebut disebutkan bahwa penerbangan pesawat jet yang didukung sepenuhnya oleh bahan bakar nabati pertama di dunia akan lepas landas bulan Oktober 2012 dari Ottawa, Kanada. Bahan bakar nabati tersebut dikembangkan oleh Dewan Riset Nasional Kanada sebagai sumber “energi terbarukan berkelanjutan” untuk industri penerbangan komersial. Bahan bakar nabati tersebut terbuat dari 100% minyak biji-bijian, sebagai pilihan yang berkelanjutan untuk mengurangi emisi penerbangan.

Isu pengurangan emisi gas buang (karbon) pada penerbangan telah menjadi isu utama dalam beberapa tahun terakhir ini di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Lewat tulisan berikut ini, saya akan memberikan gambaran mengenai upaya pengurangan emisi karbon pada semua sektor penerbangan global beserta gambaran upaya dalam proses keikutsertaan Indonesia mendukung program pengurangan emisi karbon tersebut.

Potensi Industri Penerbangan Global

Usaha di sektor penerbangan dunia pada saat ini semakin terus berkembang. Maskapai penerbangan (airlines) tumbuh dan berdiri diiringi oleh pertumbuhan sektor-sektor industri yang terkait di dalamnya. Suatu maskapai penerbangan yang akan didirikan memerlukan industri pesawat terbang sebagai sektor pendukungnya. Industri transportasi udara khususnya pembuatan/perakitan pesawat terbang merupakan industri yang pertumbuhannya paling cepat di antara industri transportasi darat dan laut. Pertumbuhan industri ini mencapai 20% dalam lima tahun terakhir. Cepatnya pertumbuhan industri pesawat terbang tersebut didorong pendapatan masyarakat kelas menengah ke atas yang cenderung membaik.

International Air Transport Association (IATA) mencatat untuk industri transportasi udara atau penerbangan secara keseluruhan, diperkirakan akan tercapai laba rata-rata setiap tahun sekitar US$ 12,2 miliar Sedangkan untuk bisnis industri pesawat terbang sendiri akan memperoleh laba rata-rata sebesar US$ 4 miliar setiap tahunnya.

Angka tersebut menunjukkan bahwa investasi pada bisnis penerbangan masih cukup tinggi sehingga menarik para stakeholder untuk lebih mengembangkan potensi bisnis. Seiring dengan kemajuan ilmu, pengetahuan dan teknologi, akan memberikan kontribusi positif bagi perkembangan bisnis penerbangan.

Industri penerbangan merupakan industri terbesar dalam hal jumlah orang yang dipekerjakan dan output yang dihasilkan. Sebagai industri yang merepresentasikan industri di abad ke-20, industri penerbangan mampu menggeser beberapa industri besar yang lebih dahulu muncul di dunia ini. Sebagai sebuah fenomena ekonomi, industri penerbangan telah menghabiskan dana penelitian dan pengembangan, inovasi dan pengembangan teknologi yang luas di berbagai sub bidang industri. Industri penerbangan mampu memfasilitasi pertumbuhan ekonomi, perdagangan dunia, investasi internasional dan pariwisata, dan oleh karena itu industri ini mampu menjadi penyokong bagi arus globalisasi yang terjadi pada industri lainnya.

Dalam 1 dekade terakhir, perjalanan melalui penerbangan telah tumbuh sebesar 7% per tahun. Pada tahun 2011 lalu, maskapai penerbangan di seluruh dunia mampu menerbangkan lebih dari 1,7 miliar penumpang. Perjalanan untuk tujuan rekreasi dan bisnis tumbuh dengan kuat di seluruh dunia. Di pasar pariwisata atau rekreasi, ketersediaan pesawat udara berkapasitas besar seperti tipe Boeing 747 maupun Airbus 380 memudahkan penikmat wisata untuk menjangkau ke tujuan-tujuan pariwisata yang baru dan eksotis.

Sebagai ilustrasi, Pemerintah di negara-negara berkembang menyadari manfaat dari pariwisata untuk perekonomian nasional dan mendorong pengembangan resort dan infrastruktur untuk menarik wisatawan dari negara-negara makmur di Eropa Barat dan Amerika Utara. Sebagai negara yang tumbuh berkembang, masyarakat negara tersebut dengan sendirinya sudah menjadi wisatawan internasional baru di masa depan.

Perjalanan untuk bisnis juga telah menumbuhkan perusahaan-perusahaan lokal menjadi semakin mendunia dan meningkatkan nilai investasi perusahaannya, pasokan dan rantai produksi serta pelanggan mereka. Pesatnya pertumbuhan perdagangan dunia dalam barang dan jasa dan investasi langsung dalam kapasitas internasional juga telah memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan dalam perjalanan bisnis.

Di Indonesia, sesuai laporan IATA, diperkirakan industri penerbangan Indonesia akan tetap marak hingga 3 tahun ke depan. Dari laporan tersebut, pada tahun 2014 Asia Pasifik dapat menyumbangkan 30% jumlah penumpang secara global. Sebagai perbandingannya Amerika Utara hanya menyumbangkan 23% penumpang secara global. Asia pasifik memang masih menjadi perhatian industri penerbangan secara global karena wilayah ini di perkirakan akan menghasilkan keuntungan sebesar US$ 2,5 miliar di tahun 2011.

Prospek Industri Penerbangan di Indonesia

Prospek Indonesia di bidang industri penerbangan pun semakin di perhitungkan. Pada tahun 2014, IATA telah memprediksi jika Indonesia akan mencapai pasar terbesar ke-9 di dunia untuk perjalanan domestik. Sedangkan sepanjang tahun 2010 hingga 2014, Indonesia akan menjadi pasar yang pertumbuhannya tercepat ke-6 di dunia untuk perjalanan internasional.

Tak hanya itu saja, untuk pengiriman kargo, Indonesia juga diprediksi akan menempati posisi 10 dengan pertumbuhan pasar tercepat di dunia dalam hal pengiriman kargo internasional. Dengan prediksi ini Indonesia akan meraih keuntungan baik dari segi perdagangan maupun pariwisata.

Berkembangnya industri pesawat terbang di Indonesia juga didorong oleh pertumbuhan ekonomi Indonesia yang meningkat. Kegiatan ekonomi Indonesia yang meningkat memicu pergerakan yang tinggi, seperti interaksi antar pulau yang semakin intens. Industri pesawat terbang di Indonesia masih berpotensi untuk berkembang karena permintaan masyarakat akan jasa penerbangan kian meningkat. Kebutuhan dan mobilitas masyarakat sangat tinggi dan butuh moda transportasi yang lebih cepat.

Perekonomian domestik didominasi dan masih mengandalkan kegiatan ekspor impor. Selain transportasi laut, transportasi udara merupakan salah satu infrastruktur penting yang harus disediakan oleh Pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan ekspor. Jumlah bandara dan pelabuhan yang dibangun di dalam negeri, otomatis akan mendorong pertumbuhan ekonomi secara langsung.

Ekonomi global juga mempengaruhi pertumbuhan domestik. Perusahaan lokal yang menempatkan pasar global sebagai target mereka, akan mendorong industri logistik, dan juga secara langsung mendorong transportasi udara. Perdagangan bebas memungkinkan negara-negara asing untuk menembus pasar Indonesia, di samping itu produk lokal akan dapat menembus pasar regional atau pasar global juga. Kegiatan ekonomi tanpa batas dan tak terbatas di era perdagangan bebas membuat permintaan penerbangan (baik untuk kargo dan penumpang) akan tumbuh berkembang.

Polusi Udara Di Balik Potensi Industri Penerbangan

Peningkatan sektor industri penerbangan akan berpotensi menghasilkan polutan yang di lepas ke udara. Penerbangan menjadi penghasil polutan karena mesin pesawat memancarkan suara, partikulat dan gas yang berkontribusi terhadap perubahan iklim dan pemanasan global. Pesatnya pertumbuhan penerbangan dalam beberapa tahun terakhir memberikan kontribusi untuk peningkatan polusi udara secara keseluruhan.

Upaya memajukan industri penerbangan rupanya tidak berbanding lurus dengan perhatian terhadap kualitas ekologi lingkungan yang semakin lama semakin berkualitas rendah. Hal-hal negatif yang dihasilkan dari pengembangan industri penerbangan masih saja diabaikan karena hanya menaruh perhatian kepada bagaimana industri penerbangan tersebut makin maju, makin canggih dan makin berteknologi tinggi.

Isu kerusakan lingkungan akhirnya menjadi ‘trending topic’ yang mengemuka di seluruh penjuru dunia. Dunia internasional mulai mengakui bahwa kualitas lingkungan menjadi semakin menurun, salah satunya diakibatkan oleh dampak industri penerbangan yang belum ramah lingkungan. Polusi yang dihasilkan dari mesin pesawat udara (exhaust gas polution) perlu diperhatikan dampak buruknya terhadap lingkungan. Meskipun “hanya” menyumbang sekitar 3% dari total polusi udara dunia tapi dengan banyaknya pesawat terbang komersial yang beroperasi dari hari ke hari bisa jadi angka persentase tersebut semakin meningkat.

Emisi pesawat terbang saat sedang parkir dengan mesin menyala di apron atau ketika antri untuk lepas landas (take off) mengeluarkan tetesan minyak yang amat kecil. Tetesan itu mengalami reaksi kimia ketika matahari menyinarinya dan menyebabkannya berubah menjadi partikel sangat kecil yang bisa menyusup masuk ke paru-paru hingga otak manusia. Kebisingan akibat suara mesin pesawat bahkan juga memberikan efek negatif bagi orang-orang yang berada di dekat suara tersebut. Para ahli dari Universitas Manchester, Inggris, menemukan alasan di balik rasa hambar makanan di pesawat adalah karena bisingnya kabin penumpang yang disebabkan oleh deru mesin pesawat. Kebisingan suara dapat mempengaruhi tingkat perasa juga kemampuan untuk mengunyah. Akibat kebisingan itu, lidah kita bahkan kesulitan untuk mendeteksi rasa asin dan manis.

Sebuah penelitian di tahun 1997 yang dilakukan oleh Michaelis  berjudul ‘Carbon Charge on Aviation Fuels’ (dalam tulisan Lilik Slamet, 2010) menyatakan bahwa sektor penerbangan telah menyumbang 12% emisi gas karbon. Bahkan penelitian tersebut juga memperkirakan bahwa pada tahun 2050 mendatang, emisi gas karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan oleh sektor penerbangan akan tumbuh 2 hingga 10 kali lipat jika dibandingkan emisi pada awal tahun 2000-an.

Avtur sebagai bahan bakar pesawat udara mengemisikan gas karbon dioksida (CO2), metana (CH4), nitrogen oksida (NOx), sulphur oksida (SOx) dan karbon mono oksida (CO). Metana (CH4), karbon dioksida (CO2), nitrogen oksida (N2O) dan tiga gas-gas industri yang mengandung fluor (hidrofluorokarbon/HFC, perfluorokarbon/PFC dan sulfur heksafluorida/SF6) adalah unsur pembentuk gas rumah kaca (GRK) yang efektif dalam menangkap panas, sehingga memungkinkan terjadinya pemanasan global. Pemanasan global tersebut mengakibatkan suhu bumi menjadi relatif lebih tinggi.

Sinar matahari berupa gelombang elektromagnetik menyimpan energi. Sinar matahari yang masuk mengenai bumi menyebabkan bumi menjadi panas. Sebagian energi panas tersebut oleh bumi dipantulkan kembali ke atmosfer sebagai gelombang panas, berupa sinar infra merah. Sinar infra merah yang dipancarkan bumi tidak mampu menembus atmosfer sampai ke angkasa luar, di dalam atmosfer sinar infra merah itu diserap oleh berbagai molekul gas sehingga suhu atmosfer naik. Kenaikan suhu atmosfer inilah yang disebut efek rumah kaca. Gas-gas dalam atmosfer yang menyerap gelombang panas disebut gas rumah kaca.

Kesadaran dan Kepedulian Dunia Internasional

Dunia internasional akhirnya memandang perlu adanya beberapa pendekatan dan target yang komprehensif untuk mengurangi dampak pencemaran udara dan perubahan iklim. Salah satu pendekatannya adalah sebuah pendekatan untuk menurunkan emisi di semua sektor dan meningkatkan kapasitas adaptasi perubahan iklim pada semua negara. Mengurangi gas rumah kaca (GRK) dan menstabilkan konsentrasi atmosfer adalah hal yang juga sangat penting.

Untuk mencapai target tersebut, semua sektor membutuhkan pendekatan yang efektif dari Pemerintah Negara maupun Organisasi Internasional untuk mengurangi emisi. International Air Transport Association (IATA) sebagai organisasi yang menaungi beberapa maskapai penerbangan besar di seluruh dunia, menata visi lingkungan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dari sektor penerbangan dengan membangun 4 pilar strategi, yaitu perbaikan teknologi penerbangan, operasional penerbangan yang efektif, pembangunan infrastruktur yang efisien dan pengukuran ekonomis pasar emisi karbon. Berikut adalah penjelasannya:

1. Perbaikan teknologi penerbangan

Dari 4 pilar strategi, perbaikan teknologi memiliki prospek terbaik untuk mengurangi emisi penerbangan. Industri penerbangan ini membuat kemajuan besar dalam teknologi seperti: desain pesawat baru yang revolusioner; bahan ringan dengan komposit baru; mesin baru dan pengembangan biofuel. Maskapai penerbangan akan menghabiskan kurang lebih US$ 1,5 triliun untuk membuat pesawat baru pada tahun 2020. Sekitar 5.500 pesawat udara akan diganti pada tahun 2020, atau sekitar 27% dari total pesawat udara di dunia akan menghasilkan 21% penurunan emisi gas karbon dioksida.

Modifikasi tipe pesawat dengan teknologi bisa mencapai lebih dari 1% dari keseluruhan pengurangan emisi pada tahun 2020. Penciptaan energi terbarukan dari bahan bakar ramah lingkungan (biofuel – bahan hayati – minyak jarak dan tumbuhan camelina) sudah berhasil digunakan di penerbangan. Dengan kemauan dan penelitian serta percobaan yang intensif, biofuel bisa menjadi bahan bakar utama untuk pesawat udara.

Maskapai penerbangan Lufthansa telah melakukan eksperimen penerbangan dengan bahan bakar bio (biofuel)ini pada tipe pesawat Airbus A321 yang dimilikinya. Pada tanggal 15 Juli 2011, eksperimen tersebut berhasil dilaksanakan dan untuk pertama kalinya pesawat dapat terbang dengan biofuel.

Percobaan kedua dilakukan oleh Lufthansa dengan menggunakan tpe pesawat yang lebih besar yaitu Boeing B747-400, dengan melintasi Lautan Atlantik selama kurang lebih 8 jam 20 menit. Lufthansa mengklaim bahwa penerbangan tersebut mampu mengurangi emisi gas karbon dioksida (CO2) sebanyak 38 ton.

Setelah keberhasilan percobaan oleh Lufthansa, penggunaan bahan bakar bio (biofuel) dalam penerbangan menjadi pembicaraan global. Namun isu beralih dari operasional penerbangan ke bisnis komersial. Bagaimanapun penggunaan bahan bakar baru ini juga harus mempertimbangkan biaya-biaya yang akan timbul dan harus dikeluarkan serta keseimbangan ekosistem lingkungan hidup.

2. Operasional penerbangan yang efektif

Semakin besarnya efisiensi dalam operasional penerbangan akan menghemat bahan bakar dan mengurangi emisi gas karbon dioksida (CO2). Cara tercepat untuk mengurangi emisi pesawat terbang adalah dengan mengelola atau memperbaiki manajemen penerbangan agar menjadi lebih baik. Studi dari Oxford University menemukan fakta bahwa mengontrol lalu lintas udara dan cara lain untuk menentukan bagaimana, kapan, dan ke mana pesawat akan terbang, bisa mengurangi emisi penerbangan hingga 95%. Cara-cara tersebut termasuk antara lain membuka lebih banyak jalur penerbangan langsung ke bandara tujuan dan tidak menunggu terlalu lama untuk mendarat.

Sistem lalu lintas penerbangan yang baik akan membantu pesawat mengurangi waktu yang terbuang dengan mesin tetap menyala sementara pesawat tetap di apron dan/atau di landasan pacu (runway). Di saat yang sama, sistem pengendali penerbangan bisa membantu mengurangi waktu terbang pesawat dan berdampak pada efisiensi penggunaan bahan bakar. Apabila sistem ditingkatkan, maka pendaratan dan lepas landas pesawat bisa lebih cepat. Pengenalan perbaikan sistem lalu lintas penerbangan juga hanya butuh biaya yang sedikit.

Maskapai penerbangan Singapore Airlines beberapa waktu yang lalu telah menerapkan program ‘City Pair’ dalam rangka mengurangi penggunaan bahan bakar dan emisi karbon di setiap penerbangan melalui manajemen lalu lintas udara. Praktik ‘City Pair’ tersebut dilakukan pada penerbangan Singapore Airlines dari Los Angeles menuju Singapore.

User-Preferred Routes’, ‘Dynamic Airborne Reroute Procedures’ dan ’30/30 Reduced Oceanic Separation’, yang memberikan kemudahan bagi pilot untuk mengetahui kondisi udara sekitar, seperti arah angin, untuk mengurangi separasi antar pesawat dan mempersingkat waktu penerbangan. ‘Time-Based Arrivals Management’ dan ‘Arrivals Optimization’ memudahkan pesawat untuk terbang dengan mesin ditetapkan pada kondisi siaga pada saat melakukan penurunan ketinggian selama fase pendaratan, sehingga mengurangi pembakaran bahan bakar.

3. Pembangunan infrastruktur yang efisien

Pembangunan dan pengembangan infrastruktur penerbangan menunjukkan besarnya potensi penghematan bahan bakar dan pengurangan emisi penerbangan dalam jangka menengah. Sebuah studi tentang perubahan iklim yang dilakukan oleh Intergovernmental Panel menunjukkan pada tahun 1999 terdapat sekitar 12% ketidakefisienan dalam pembangunan infrastruktur penerbangan dan menurun sekitar 4% pada tahun-tahun setelah itu.

Implementasi pada manajemen lalu lintas udara dan infrastruktur penerbangan yang lebih efisien mampu memberikan pengurangan emisi sebesar 4% di tahun 2020. Sebagai contoh adalah dalam pembangunan bandara berkonsep ramah lingkungan atau ‘eco-airport’. Konsep eco-airport ini sendiri merupakan salah satu bentuk tanggung jawab sektor industri, dalam hal ini industri jasa penerbangan terhadap keberlanjutan dan manajemen lingkungan. Sektor penerbangan melalui sisa buangan bahan bakar pesawat terbang berupa karbon dioksida dan uap air memberikan kontribusi terhadap perubahan iklim.

Pengurangan emisi polutan udara dan gas rumah kaca menjadi prioritas utama dalam konsep eco-airport, seperti yang tertuang dalam Eco-airport Master Plan Narita Airport di Jepang. Setidaknya ada 3 prioritas utama dalam implementasi eco-airport, yaitu pengurangan emisi polutan udara (NOx), pengurangan emisi gas rumah kaca dan pengurangan produksi limbah dan penggalakan konsep daur ulang.

Upaya-upaya untuk mencapai target eco-airport tentu dikembalikan lagi pada pihak pengelola bandara. Banyak cara untuk menciptakan lingkungan bandar udara yang ramah lingkungan dari berbagai aspek. Dari segi lansekap misalnya, penataan ruang-ruang terbuka, taman vegetasi, pemilihan jenis vegetasi dan stratifikasi yang mampu menyerap polutan, sistem pengelolaan limbah yang dapat mengakomodasi volume limbah disamping juga implementasi sistem daur ulang bagi limbah dengan karakteristik tertentu, hingga penggunaan alat-alat untuk mendukung efisiensi energi seperti panel surya dan penggunaan light-emitting diode (LED).

4. Pengukuran ekonomis pasar emisi karbon

Penggunaan bahan bakar fosil menyebabkan bermilyar-milyar ton senyawa karbon yang sebelumnya tersimpan selama jutaan tahun di perut bumi dilepaskan ke atmosfer. Akibatnya konsentrasi karbondioksida di atmosfer semakin bertambah, dan inilah yang menyebabkan temperatur bumi semakin meningkat.

Untuk mengatasi hal ini, negara-negara yang tergabung dalam United Nations Framework Convetntion on Climate Change merancang yang dinamakan Protokol Kyoto. Salah satu yang diatur oleh protokol ini adalah kuota emisi. Setiap negara maju yang tergabung dalam Protokol Kyoto memiliki batasan jumlah maksimum karbondioksida yang diperbolehkan dibuang ke atmosfer. Negara-negara maju yang memiliki kebutuhan emisi yang lebih tinggi daripada kuota tersebut dapat memperbesar kuota dengan cara:

– Mengerjakan proyek untuk mengurangi emisi pada negara-negara berkembang;

– Membeli kuota tambahan dari negara maju lain; atau

– Membeli kuota tambahan dari pasar emisi.

Sebagai contoh, Belanda mengerjakan proyek untuk mengurangi di Indonesia dengan tujuan untuk meningkatkan kuota emisi negara tersebut. Walaupun penerapan kuota ini dilakukan per negara, tetapi pada praktiknya setiap negara akan membagi-bagi jatah mereka kepada masing-masing industri di dalam negara tersebut. Entitas-entitas ini nantinya akan dapat melakukan transaksi kuota emisi sesuai kebutuhan masing-masing pada pasar emisi. Ini adalah pasar komoditas dimana berbagai pihak dapat melakukan jual beli kuota emisi karbon.

Dengan adanya pasar-pasar ini, pihak-pihak dapat melakukan transaksi jual beli kuota emisi karbon dan gas rumah kaca lainnya sebagaimana jual beli komoditas lainnya. Pihak yang memerlukan kuota tambahan dapat membelinya, dan yang memiliki kuota yang menganggur dapat menjualnya. Saat ini, dua pasar emisi terbesar tersebut belum tersambung, akibatnya perbedaan harga terlihat sangat mencolok. Walaupun demikian seharusnya tidak ada hambatan yang berarti di masa yang akan datang bagi kedua pasar ini dan pasar-pasar emisi lainnya untuk dapat bergabung, atau dengan kata lain emisi yang dibeli pada satu pasar dapat dijual pada pasar emisi yang lain.

Proses Keikutsertaan Indonesia

Indonesia sebagai bagian dari dunia internasional, terdorong pula untuk menggalakkan upaya pencegahan dan perbaikan kualitas ekologi lingkungan. Sektor transportasi di Indonesia turut berkontribusi pada penurunan kualitas udara. Padahal sejak tahun 1999, Pemerintah telah membuat aturan dalam upaya pengendalian pencemaran udara. Melalui Peraturan Pemerintah nomor 41 tahun 1999 telah diatur bagaimana cara pencegahan pencemaran udara, termasuk bagaimana penanggulangan dan pemulihan pencemaran udara. Namun barangkali selama proses kurang lebih 10 tahun-an sejak Peraturan Pemerintah tersebut diberlakukan, upaya yang dilakukan untuk pencegahan pencemaran udara belum berjalan efektif. Penurunan kualitas udara masih lebih terasa dibandingkan perbaikan ekologi lingkungan. Hal tersebut yang kemudian dirasa diperlukan sebuah aturan baru yang lebih mengikat dan memaksa untuk dijalankan.

Peraturan Presiden nomor 61 tahun 2011 tentang Rencana Aksi Nasional (RAN) Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) diterbitkan didasarkan pada pertimbangan  posisi geografis Indonesia yang sangat rentan terhadap dampak dari perubahan iklim, sehingga Indonesia perlu secara aktif turut serta dalam upaya pencegahan melalui mitigasi perubahan iklim. Perpres tersebut merupakan tindak lanjut dari kesepakatan Bali Action Plan pada Conference of Parties United Nations Climate Change Convention (COP UNFCCC) ke-13 di Bali, bulan Desember 2007, dan memenuhi komitmen Pemerintah Indonesia untuk secara sukarela menurunkan emisi GRK sebesar 26% dengan usaha sendiri atau mencapai 41% dengan bantuan internasional pada tahun 2020. Untuk itu diperlukan pedoman untuk penyusunan upaya dan langkah-langkah penurunan emisi GRK. Dalam Perpres nomor 61 tahun 2011 tersebut disebutkan, bahwa kegiatan  RAN-GRK meliputi bidang pertanian, kehutanan dan lahan gambut, energi dan transportasi, industri, pengelolaan limbah, dan kegiatan pendukung lainnya. RAN-GRK ini akan menjadi acuan bagi masyarakat dan pelaku usaha dalam melakukan perencanaan dan pelaksanaan penurunan emisi.

Khusus untuk sektor transportasi udara, dokumen rencana aksi Indonesia telah tercantum pada dokumen 37th ICAO Assembly 2010 regarding Indonesia Action Plan on Aviation and Climate Change.

Kebijakan dan strategi penurunan emisi gas rumah kaca di sektor penerbangan, terdiri dari:

1. Perumusan kebijakan dan peraturan serta pengembangan kapasitas sumber daya manusia;

2. Penurunan emisi karbon pada operator penerbangan dengan jalan efisiensi dalam pengoperasian pesawat udara;

3. Penurunan emisis karbon pada pelayanan navigasi penerbangan melalui manajemen lalu lintas penerbangan berbasis performas;

4. Penurunan emisi karbon pada pengoperasian bandara, yaitu pembangunan dan pengembangan eco-airport;

5. Penurunan emisi karbon pada penerapan penggunaan sumber energi baru dan terbarukan (biofuel, renewable energy); dan

6. Penerapan pasar karbon domestik.

Dukungan Pemerintah dan Stakeholder Penerbangan

Untuk memenuhi dan menjalankan apa yang telah menjadi kebijakan dan strategi dalam rangka penurunan emisi penerbangan, tentunya dibutuhkan dukungan dari Pemerintah dan stakeholder penerbangan di Indonesia. Pemerintah telah menyusun panduan (guidance) serta dalam posisi mengawasi kebijakan tersebut. Sedangkan stakeholder penerbangan, dalam hal ini maskapai penerbangan, operator bandara, ground handling serta pihak-pihak yang berkecimpung dalam sektor penerbangan, turut pula menjadi sosok sentral dalam upaya penurunan emisi penerbangan tersebut.

Maskapai penerbangan berperan dengan memodernisasi pesawat udara berteknologi ramah lingkungan (eco-friendly). Beberapa produsen pesawat udara telah berinovasi dalam peremajaan pesawat untuk menciptakan komponen-komponen pesawat udara yang mampu menghemat penggunaan bahan bakar. Sebagai contoh pabrik pesawat Airbus yang telah mengumumkan keberhasilannya menciptakan ‘sharklets’ (winglet mirip sirip ikan hiu) pada pesawat Airbus A320 yang mampu mengurangi konsumsi bahan bakar hingga 3,5% dan meningkatkan daya muat 500 kg atau jarak tempuh 100 mil laut (190 km) dibandingkan sebelumnya. Winglet sendiri merupakan bagian sayap kecil yg terdapat pada pesawat terbang yang berfungsi mengurangi hambatan udara akibat ulakan udara bertekanan tinggi dari bawah sayap yang berusaha menuju ke atas permukaan sayap lewat ujung sayap.

Pada akhir tahun 2012 ini, maskapai penerbangan AirAsia (dan juga Indonesia AirAsia) menjadi maskapai penerbangan pertama yang akan mengoperasikan pesawat Airbus A320 ‘sharklets’ untuk penghemat bahan bakar. Pengoperasian pesawat tipe terbaru tersebut sejalan dengan strategi bisnis AirAsia yang merupakan maskapai penerbangan berbiaya murah (low cost carrier), dimana penghematan bahan bakar akan berdampak signifikan pada penurunan biaya operasional penerbangan AirAsia secara keseluruhan. Barangkali hal tersebut perlu juga dilakukan oleh beberapa maskapai penerbangan Indonesia lainnya yang juga mengoperasikan pesawat udara tipe Airbus A320.

Selain berinovasi pada komponen pesawat udara, maskapai penerbangan juga berperan dalam upaya penurunan emisi penerbangan dengan jalan penerapan sistem dan prosedur operasi dan perawatan pesawat udara untuk penghematan bahan bakar dan suku cadang. Kongkritnya adalah perawatan pesawat udara dilakukan secara rutin dan berkala sesuai dengan masa pengecekan yang sesuai standar.

Ground handling memegang peranan dalam upaya penurunan emisi, khususnya yang berkaitan dengan pengoperasian ground support equipment (GSE) di bandara. Hal tersebut dilakukan dengan perencanaan dan implementasi secara bertahap terhadap kendaraan dan alat bantu layanan di darat (GSE) berbasis tenaga listrik atau bahan bakar terbarukan (biofuel).

Operator bandara juga memiliki peranan yang cukup besar dalam penurunan emisi penerbangan. Penghijauan di sekitar lingkungan bandara dengan melakukan penanaman pohon untuk menyerap emisi gas buang karbon dioksida (CO2) pada akses jalan menuju terminal bandara, area parkir kendaraan dan area terbuka lainnya. Penanaman pohon semisal dilakukan dengan menanam pohon trembesi yang mampu menyerap sekitar 28 ton gas CO2/pohon/tahun.

Penggunan lampu tipe light emitting diode (LED) untuk alat penerangan di area bandara (termasuk terminal bandara dan keperluan layanan navigasi penerbangan), akan memberikan manfaat lebih. Lampu LED memiliki kelebihan karena pemakaiannya dapat mencapai lebih dari 30 ribu hingga 100 ribu jam dan manfaatnya terasa dalam menekan pemanasan global dan mengurangi emisi karbon dunia. Lampu ini berasal dari bahan semi konduktor, jadi tidak diproduksi dari bahan karbon. Bila lampu LED digunakan di seluruh dunia, total energi listrik untuk penerangan dapat berkurang hingga 50%. Selisih emisi karbon yang dihasilkan dunia bisa mencapai 300 juta ton per tahunnya.

Dalam hal manajemen lalu lintas penerbangan, upaya yang telah dan sedang terus dilaksanakan oleh Indonesia adalah dengan proses slot time coordination dan air traffic flow management sehingga diharapkan mampu lebih mengefisienkan dan menghemat jarak tempuh penerbangan yang pada akhirnya akan bermuara pada penghematan penggunaan bahan bakar pesawat udara.

Proses slot time coordination dilaksanakan dengan mekanisme pengalokasian slot time penerbangan antar bandara asal dan tujuan penerbangan domestik oleh Indonesia Slot Coordinator (IDSC) dan oleh Garuda Indonesia selaku koordinator slot penerbangan internasional. Sedangkan proses penerapan air traffic flow management dilakukan dengan membangun sistem Flight Plan and Flow Management Centre (Flipmac) pada empat bandara yang dikelola oleh PT. Angkasa Pura I (bandara Juanda, Ngurah Rai, Sultan Hasanuddin dan Sepinggan). Dengan sistem Flipmac tersebut antisipasi delay penerbangan bisa dikurangi hingga paling lambat 3 menit, sehingga maskapai penerbangan akan dapat menghemat biaya operasional akibat delay dan penggunaan bahan bakar oleh pesawat juga bisa menghemat hingga rata-rata 150 liter per menit.

Itulah sedikit gambaran mengenai upaya penurunan emisi (reduce emissions). Apa yang telah dan sedang terus dilakukan oleh Indonesia dan dunia internasional secara keseluruhan semoga akan memberikan hasil perbaikan kualitas lingkungan dan khususnya pada sektor penerbangan dapat mewujudkan sektor penerbangan yang bersih dan hijau (go green aviation).

Referensi:

– Lilik Slamet S, 2010, Potensi dan Dampak Polusi Udara dari Sektor Penerbangan, Jurnal LAPAN

– IATA Publication, A Global Approach to Reducing Aviation Emissions

– Kebijakan – Strategi – Roadmap Rencana Aksi Nasional (RAN) Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca Bidang Transportasi Udara 2012 – 2020

Jet Berbahan Bakar Nabati Pertama Tinggal Landas di Kanadahttp://www.antaranews.com/berita/334425/jet-berbahan-bakar-nabati-pertama-tinggal-landas-di-kanada – diakses tanggal 21 September 2012

– Berbagai publikasi dan berita online dalam kotak pencarian google “emisi penerbangan” dan “pencemaran udara”

– Tulisan mengenai ”emisi penerbangan” di majalah dan surat kabar

Sumber foto:

– Perakitan Pesawat Airbus – voaindonesia.com

– Polusi udara dari penerbangan – travel-agent-kita.blogspot.com

– Sharklets pada ujung sayap pesawat – airbus.com

– AirAsia pengguna pertama pesawat A320 sharklets – aviationnews.eu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s